Wednesday, May 02, 2012

REHAB HATI, ABSTRAKSI


“Dalam fitrahnya hati ada kerinduan, kerinduan untuk kembali. Kembali ke sebuah kampung halaman, kampung halaman dimana Adam Alaihi Sallam dilahirkan”

Selamat datang!
Selamat datang di Altar Rehab Hati.
Biarkan buku ini mengenalimu, menyapa dan menyentuhmu.

TENTANG CINTA

Tidak usah terburu berkata cinta, mungkin itu dusta saja..
Saat cinta itu mulai menyapa, berkata-kata dan saling berbisik rahasia, melukis jutaan bait membaur bersama debaran dan dugaan.. meresap, menyelinap dan menggetarkan dinding-dinding hati, disana keindahan itu hadir mewarnai, biarkanlah tetap begitu. Indah dalam diam..

Karena jika dua deru gemuruh itu dipertemukan ditepian pantai hatimu, dua dinding itu nanti bergetar hebat dan Istana hatimu tidak lagi diam. Istana yang dulu kokoh, dinding keikhlasan yang dulu terjaga sebentar lagi akan runtuh dilembah cinta yang tak halal.

“Airmata adalah bahasa kejujuran. Cerminan hati yang lembut, yang mencintai keindahan. Biarkan ia menetas hingga resah itu hilang, jika resah itu masih bersemayam, maka biarkanlah ia mengadu kepada peraduan terindahnya. Allah. Allah-lah tempat mengadu”.

“Ketahuilah, cinta sejati adalah cinta yang senantiasa bersahutan, berderu-deru dalam gemuruh ombak, beriak digelisah lautan, diam dalam ketenangan ikan-ikan, indah dalam kesedihan, nikmat dalam kekecewaan dan tidak mati dengan kematian. Cinta yang akan tetap indah, meski terbagi miliyaran angka tak terbatas semesta. Itulah Mahabbatullah, Maka arahkan cintamu untuk meraih Cinta-Nya. Agar Tuhanmu Ridha kepadamu.."

TENTANG CEMBURU
Ketahuilah Rabb-mu pun Cemburu.

Aduhai...
Hati manakah yang tak pernah dihinggapi rasa cemburu!?
Adanya laksana sebuah gejolak bergemuruh yang mampu mengubah cinta menjadi murka. Lihatlah saat kekasihmu cemburu, bukankah engkau tidak lagi mengenalnya sebagai kekasih yang mengagumimu?

Ingatkah kisah membahana yang menuturkan Aisyah ra yang tak mampu membendung gelombang cemburu yang dipancarkan hatinya. Dengarkanlah rintihannya. Saat itu, ia turun dari unta dan menyandarkan tubuhnya di pohon dan menjulurkan kakinya ke rerumputan. Ia dihinggapi cemburu lagi, di perjalanan menuju madinah ia melihat Rasulullah, kekasihnya, berbincang dengan Hafshah ra, istrinya yang lain.

"Ya Tuhanku! semoga ada kalajengking atau ular yang menggigitku sedang aku tidak dapat mengatakan sesuatu apapun kepada rasul-Mu..."

Betapa hebatnya cemburu itu!
Ia hinggap dan menyengat hati-hati yang lembut, yang penuh cinta dan tak ingin kehilangan. Ia membakar hati yang diliputi kekhawatiran. Tentu saja, api cemburu itu hanya akan hadir saat disana ada asap-asap cinta.

Saudaraku, menurutmu siapakah teman sejati yang paling mencintaimu? Yang tidak pernah meninggalkanmu sedetikpun, bahkan ketika engkau membuatnya marah dan murka, siapakah yang senantiasa menatapmu dengan Rahmat dan ke Maha Sabaran-Nya, diam tak terhitung abad menyaksikan kemungkaran dan kekafiran?

"Sesungguhnya Allah itu cemburu dan orang yang beriman juga cemburu. Kecemburuan Allah, yaitu jika orang mukmin melakukan apa yang diharamkan" [HR Bukhari no. 5222, Muslim no. 2755]

TENTANG KEBAHAGIAAN
Kebahagiaan Itu dihatimu, di hati yang bersyukur.

Sering kita tergesa mengayun langkah, berlari mengejar kebahagiaan. Tak sadar, bahwasannya kita berlari kearah yang berlawanan dengan kebahagiaan itu sendiri. Hingga semakin kuat kita berlari, semakin jauh kita menjauh dan terus menjauh lagi, hingga jiwa itu letih dan tertatih lalu lupa jalan untuk kembali.

Kebahagiaan itu sederhana.
Sederhana, seperti itulah kebahagiaan.
Kebahagiaan Itu dihatimu, di hati yang bersyukur.
Serba keterbatasan sama sekali tidak menjadi alasan yang tepat untuk berhenti bersyukur. Justeru kegagalanmu – atau ketidakmampuanmu – dalam mensyukuri adalah titik yang melemahkan pencapaianmu ke-level bahagia berikutnya.

"Ketahuilah bahwa roda-roda itu terus berputar, mengikuti setiap jalanan yang engkau pilih. Namun ada yang mendorong roda itu dengan segala kesungguhan dan keyakinan, anthusiasme dan pengharapan yang konstan – hingga ia berjalan dan berubah – dan ada pula yang mendorong roda itu dengan malas disertai ketidak yakinan akan perputarannya. Hingga roda itu terus menindihnya di bawah".

TENTANG KESABARAN
“Sabar itu tak ada batasnya!”

Jika saja sabar itu mudah, tentu semua orang pun bisa melakukannya.
Jika engkau masih berkata ‘sabar itu ada batasnya’, cukuplah itu pertanda yang jujur bahwasannya engkau memang belum mampu untuk bersabar.

TENTANG SINERGI, IMAN DAN KEBAHAGIAAN
"Iman laksana pohon di taman hati, naungannya memberi kesejukan, dari batangnya tunas-tunas harapan terus terlahir, ia berbunga kebahagiaan yang bermekaran, keharumannya bertaburan menaburi setiap jalanan yang engkau lalui. Seiring keistiqamahan yang terjaga dari bunga itu lahir buah yang bernama Ikhlas”.

TENTANG KEHIDUPAN
Untuk apa raga itu hidup, jika hati telah mati?
Buku ini adalah seni menghidupkan hati, sekelompok Analogi dan sentuhan. Lalu tamparan, agar hati kita Bangun dan melangkah tegap dan merasa hidup Istimewa.

“Yap, Saat seorang bayi manusia terlahir ke dunia, hal pertama yang ia pelajari adalah bagaimana cara untuk menangis. Selepas itu, sisa dikeseluruhan hidupnya akan ia gunakan untuk belajar bagaimana agar ia mampu tersenyum saat kehidupan memaksanya untuk menangis. Bagi seorang Muslim, hidup tak sekedar itu. Ia harus belajar, bagaimana caranya agar kehidupan yang singkat ini tidak hanya diisi dengan tawa-tawa sesaat yang kemudian ia tukar dengan tangisan abadi di Akhirat”.

Demi Allah, kukatakan dengan lantang!
Seorang beriman yang jujur dengan keimanannya, layak dan ber-haq untuk bahagia.
Bahagia dalam islamnya itu sendiri, karena semua kebahagiaan diluar itu adalah semu dan menipu. Jika saja tolak ukur kebahagiaan itu sekedar tawa-tawa, maka orang kafirpun mampu menggapainya.

Kebahagiaan itu bukan rahasia.
Pintu-pintu ketenangan itu senantiasa terbuka bagi siapa saja yang terbangun dipagi hari atau malamnya, sejenak meluangkan waktu untuk berfikir dan bersyukur tentang berbagai kesempatan yang Allah hadiahkan dalam satu paket "kehidupan" ini, kehidupan sesaat untuk masa yang Abadi.

Saudaraku merebahlah..
Urusan dunia ini tidak harus kita selesaikan semuanya disini.
Karena kebahagiaan sebenarnya itu bukan disini, tapi disana.
Disebuah hari yang kekal tiada akhir, di mana semua jiwa-jiwa yang beriman diistirahatkan dari lelahnya kehidupan. Di mana para pejuang berhenti dari kelelahannya, pengikut yang setia berbahagia di telaganya, mereguk kenikmatan yang memusnahkan rasa haus untuk selama-lamanya.

TENTANG KEMATIAN!
Peluru Kematian, Jembatan Kematian & Management Kematian.

Saudaraku bertanya, seolah ingin menyelami hatiku.
“Menurut akang, untuk apa sih hidup ini? Hidup untuk hidup, hidup untuk mati, atau hidup untuk kehidupan?”.

Aku menatapnya hormat, lalu kucoba berlayar dimatanya dan berkata.
“Saudaraku, hidup adalah hidup untuk kehidupan yang maha hidup, hidup ini adalah kehidupan untuk Yang Maha Hidup”

Sesaat kemudian malam kembali hening, dan aku merasa bersalah telah membuatnya merasa bersalah.

TENTANGMU
Tidakkah engkau curiga bahwa musibah itu hanyalah sapaan halus agar engkau lebih dekat dan mengingat Tuhanmu?

Bukan ujian namanya, jika kita telah mengetahui jawabannya. Ujian itu terus mengujimu agar engkau menjadi pribadi Teruji. Jika bukan dengan gesekan-gesekan memilukan itu lalu dengan apakah lagi pisau mata hatimu akan tajam dan peka untuk melihat dengan keindahan semesta Raya ini?

Di ujung telpon, suaranya parau bergeletar seakan pagi tidak akan datang lagi padanya.
“Akhi, kapankah ini berakhir. Empat belas tahun, adalah masa yang tidak sebentar. Sungguh aku tidak melihat tanda-tanda ini akan berakhir. Kapankah ini berakhir.. kapankah?”

“Saudariku, kenapa engkau menanti akhir. Bukankah akhir dari kehidupan ini hanyalah kematian?”.

Di ujung sana.
Suara itu, kembali terdengar semakin pilu.
“Karena engkau tidak tahu beratnya beban, pedih dan pilu yang kurasakan”

Aku, menyimak, memasuki sukma dan berusaha mengambil hatinya. Sambil meneguhkan hati, agar tidak runtuh bersama dinding rapuh. “Saudariku, percayalah. Tidak ada yang melebihi pedihnya kematian. Sepedih apapun luka di dunia ini, dan kematian itu bukanlah akhir. Kematian hanyalah awal, ia adalah pintu yang akan membukakan lembaran baru yang Abadi. Silahkan engkau pilih di dunia ini, kebahagiaan abadai atau tangisan yang abadi!”

Bukankah selama 14 Tahun itu Allah selalu membangunkanmu di setiap pagi, lebih tepatnya membangunkanmu kembali, mempersilahkan ruh itu menyatu kembali dengan jasadmu setelah semalaman terpisah entah kemana, lalu engkau terbangun. Tidakkah engkau merasa istimewa bahwa itu adalah sebuah “kepercayaan” dan “kesempatan” teramat mahal dari-Nya?

Untukmu, untuk semua yang masih dipercaya untuk Hidup.

"...Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah..” (QS 64: 11) Ingatlah sebuah pesan sang Rasul, bahwasannya ”Tidak ada duka dan kepedihan, bahkan gelisahnya hati orang mukmin.. Tidak ada luka sekecil apapun, bahkan jari yang tertusuk duri maka disana ada Ampunan dosa”

Sedahsyat apapun, badai kegelisahan yang datang pasti ia akan kembali; kembali kelautan.
Ketahuilah, bahwa gelombang ujian akan selalu datang. Berhentilah untuk menyalahkan siapapun, apalagi berprasangka kepada Rabb Yang Maha Mulia. Jangan menghabiskan energi untuk menghindar atau melawannya, sikapi dengan tenang dan cerdaslah! Bangkit dan berselancarlah bersama deru-derunya, dan temukan keindahannya...

"Ingat, pilihan Allah tidak akan pernah merugikanmu, tidak akan pernah. Maka bangkitlah! Buktikanlah!.”

TENTANGKU
2 Negeri, 2 Masa dan 4 Kota.
Debu-debu Iman di kota Riyadh, Madinah Menyapa, Getaran dari Al Haram, Senja di Tepian Laut Merah.

TENTANG KITA
Islam Dipersimpang Jalan.
Menyikapi “Kebingungan Berjamaah” tentang Manhaj yang bertebaran di Musim Akhir Jaman.
Dipersimpang Jalan menuju keabadian.

TENTANG PENDEWASAAN
“Ingatlah di Akhirat sana tidak ada Anak-anak, dan kedewasaan itu adalah sebuah Pilihan”

TENTANG KEGAGALAN
Menangkap sinyal rahasia, mengalirkan energi bergejolak dalam kekecewaan mendalam untuk terbang ke langit.

TENTANG ABSTRAKSI SUKSES
Kesuksesan itu adalah ridha Tuhanmu,
“Lihatlah ketika kekasihmu ridha kepadamu. Bukankah ia akan memberimu apa saja yang engkau butuhkan. Bahkan ia setia memahami setiap lintasan ingin diwajahmu?”

TENTANG PERUBAHAN!
Dinding yang Bergetar.
Install Ulang Hati, Rekontruksi Diri Menata Hati.
Berselancar Digelombang Ujian!
Merebah Dilembah Mahabbah!
Bersahabat dengan Takdir-Nya!
Agar kilaunya abadi.

Saudaraku, Hidangan Qalbu ini sengaja ku tulis dari hatiku.
Dan, buku ini untukmu wahai Adik-adikku. Maka genggamlah erat-erat.
Merebahlah, Menangislah dan Jadikanlah airmata itu SAKSI SEBUAH PERUBAHAN!

SALAM BAHAGIA
NAI

Saturday, January 07, 2012

PROLOG DARI SENJA


Teruntuk jiwa yang gaduh, riuh bergemuruh
Teruntuk raga yang dahaga ditelaga kekeringan
Teruntuk sekeping hati yang pergi, kemari dengarlah..
Mari kemari, meski engkau engkau telah menjauh 
jauh sejauh jauhnya..
mari kemari, 
kembalilah..

Merebahlah..
Istirahatkanlah hatimu, sejenak saja 
atau hingga engkau bosan.
Hentikan usahamu menyalahkan diri sendiri, 
sejenak hentikan usahamu melawan ketetapan Nya. 
Sebentar saja, dunia ini hanya sebentar 
tak usahlah engkau menangis untuknya. 
Karena, dia - dan semua - akan engkau campakan 
seusai upacara penguburan jasadmu.

Saat nuranimu pun terdiam, 
saat hatimu berhenti berbisik bisik. 
Saat jiwamu tertindih kesedihan, terluka dengan duka duka. 
Saat belantara dadamu itu terasa sesak dan rusuk rusuk menghimpit. 
Saat saat itulah kesanggupanmu untuk menjadi dewasa dididik, 
karena kita memang harus segera dewasa dan bersahabat dengan kehidupan ini. 
Kehidupan untuk satu kehidupan yang maha hidup.

Ada saatnya keramahan, ketegaran dan kebaikan yang nampak hanyalah ilusi. 
Dalam kejujuran hatilah tersimpan kemarahan dan kesedihan. 

Salam bahagiaku untukmu.
Wahai Mukminin Mukminat yang hatinya rendah 
dan hina dihadapan Nya.

Saat terbaring atau berdiri, 
saat semua bersamamu atau saat tak sesiapapun peduli. 

Saat jiwa itu mulai terdiam, 
dan istananya tiba tiba saja sepi, 
atau gaduh dengan kekhawatiran.

Namun engkau masih tegar dan berdiri, 
menyendiri di sudut sudut malam pelarian. 

Jika saja, pagi ini cahaya matahari tidak menemuimu ditempat yang biasa, 
maka pastikanlah bahwa ia tidak enggan menyapa. 
Ia senantiasa setia teguh dan patuh menerangi bumi, 
laksana nur-illahi yang hangat 
disetiap jiwa yang mengimani.

Ketahuilah matahari tak pernah enggan menyinari pagimu, 
Mungkin hari ini taqdir lain sedang mencegahnya; awan. 
Awanpun takdir Nya. 

Maka bersahabatlah dengan mereka, 
karena semua adalah rencana Nya. 
Mungkin awan baru saja melintasi petani disurau kecilnya 
memberi harapan hujan untuk ladangnya yang kering..

Jangan berprasangka pada Nya, hanya karena engkau merasa jauh. 
Ketahuilah, sesungguhnya Rabbmu tidak pernah menjauh darimu, sedetikpun. 
Tidak, ia tetap denganmu dengan kemaha sabaran Nya.

Jangan pula engkau merasa paling tawadhu, padahal disana engkau sedang takabbur. 
Merasa diri paling dekat. 

Bukankah Rabbmu juga memberi kelonggaran 
kepada orang orang kuffar 
dengan hadiah hadiah kehidupan 
dihari ini dan sebelumnya?

Tak usahlah peduli dengan mereka yang merendahkanmu. 
Sesungguhnya Rabbmu ingin memuliakanmu dengan ke-Maha Muliaan Nya. 
Maka segeralah, merendah kepada Nya. 
Bertafakurlah diantara malam Nya.
Semampumu saja..

Tak usahlah bertafakur ditengah malam, jika matamu memang kalah mengantuk. 
Tak usahlah duduk duduk dipojokan masjid, menangis dan mengadu, jika memang dirimu tak mampu. 
Duduklah ditepian terjalnya tebing kehidupan yang hampir saja menjerumuskanmu.
Ataukah saat ini engkau telah terjatuh dilembahnya?

Tak apa, jangan marah. 
Duduklah disana dan fikirkanlah..
Tanyakanlah kepada nuranimu..
Benarkah dirimu telah bersih dari kotoran dosa dosa?
Hingga begitu angkuhnya dan merasa pantas untuk marah dengan musibah ini? 
Benarkah diri itu telah siap untuk kembali terbangun di alam mahsyar tanpa hisab karena begitu bersihnya? 

Ingat kembali tentang berbagai keharaman keharaman yang pernah atau masih kita lakukan, tentang kewajiban kewajiban yang pernah kita lalaikan.

Bukankah setiap dosa itu pasti dibalasi?

Sungguh
Tuhanmu ingin 
mengurangi bebanmu 
di akhirat nanti saudaraku..

Lihatlah betapa kasih sayang Nya yang telah meringankan api neraka dengan cicilan musibah ini. Yakinkanlah musibah ini hanya cicilan dosa saja, hanya cicilan Azab. Sakitnya tidak akan melebihi kematian.

Yah, ini hanyalah cicilan wahai saudaraku. Semua keluh kesah yang membasahi hati itupun dicatatkan sebagai pengurang dosa.

Jangan bodoh, jangan ingin mati..
Mati bukanlah akhir dari penderitaan..
Kematian hanyalah awal dari penderitaan abadi jika engkau tidak siap

Marilah kawan..
Lihatlah dirimu , bukankah ini dunia? 
Apa yang engkau khawatirkan tentang Dunia ini?
Dunia ini hanya persinggahan, persinggahan bernama dunia..

Engkau masih berdiri dan bebas disini.
Dirimu masih di Dunia, lihatlah dan bersyukurlah 
Disini tidak ada tanah yang menghimpitmu..
Atau gelap yang membutakanmu..
Udara masih gratis..

Ini adalah dunia..
Dunia yang sering kita dustakan nikmatnya..

Kita masih di dunia kawan, bukan dikuburan.. 
Matahari masih disana ditempat yang biasa
meski awan menutupinya

Tersenyumlah meski sakit.
Merintihlah, mengadulah kepada Nya
Rintihanmu memanggil Nya adalah dzikir..

Dzikir adalah mengingat Nya 
Mengingat Rabb yang sering kita lupakan.. 
Padahal Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi wa Sallam telah bersabda, 
bahwa “Tidak ada hal yang disesali penghuni syurga 
kecuali satu jam di dunia 
yang mereka lewati 
tanpa mengingat 
Allah.." 

Ingatlah lagi pesannya, 
bahwa "Jika Allah mencintai hamba Nya 
maka ia akan ditimpakan musibah 
agar Dia mendengar rintihannya..”

Agar kita merintih mengingat Nya. 
Tidak ada kekhawatiran tentang dunia ini saudaraku. 
Kesabaran itu harus dilatih, dan pelatihan ini tiada akhir. 
Hamparan dunia ini adalah medannya, 
medan untuk menguji kesabaran 
agar kita menjadi benar benar teruji 
dan berkualitas tinggi. 

Selalu ada kegaduhan diawal cerita tak terduga yang menghampiri kita. 
Tapi diujung kesabaran itu sesungguhnya ada nikmat. 
Ditengahnya ada cahaya harapan, 
Lamanya rentan waktu penantian 
menanti nanti pertolongan Nya adalah ibadah. 
Sungguh para malaikat tak pernah lelah mencatatnya 
sebagai satu ibadah kita yang sempurna 
disisi Nya. 

Jika tidak dengan guncangan dan musibah musibah itu, 
lalu hal apakah lagi yang akan mengingatkan kita ?

Inilah hal hal yang seharusnya 
semakin mendekatkan diri kita kepada Nya. 

Lihatlah dua merpati yang sedang dibelai cinta. 
Bukankah mereka juga ingin selalu dekat dan berdekatan?

Begitulah para salihin menyikapi musibah saudaraku. 
Mereka menjadikan musibah demi musibah itu sebuah medan. 
Sebuah ajang untuk bermesraan dengan Nya dalam rintihan. 
Mereka terhanyut hanyut berduaan, 
beralaskan rintihan 
menuju lautan ridha Nya.

Sungai kehidupan ini tidaklah lurus saudaraku...
Ia berliku dan tak terduga.
Kadang berbatu, kadang terjun menurun
Kadang tenang, kadang rusuh bergemuruh..
Kadang gemericik, kadang mendebarkan..

Kesemuanya adalah ujian. 
Bagi jiwa yang mengetahui bahwa liku liku itu adalah iradah Nya, 
mereka tidak akan pernah mengeluh. 
Mereka yakin, bahwa semuanya akan berakhir di pantai nan indah. 
Pelabuhan terakhir yang telah dijanjikan Nya sebagai balasan bagi mereka yang bersabar.

Sering memang, hidup ini terasa begitu melelahkan. 
Penantian itu memang teramat berat, 
hingga Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi wa Sallam menghibur kita 
dengan mutiara katanya yang menggembirakan
bahwa ”Penantian seorang Muslim menanti nanti kelapangan 
itu telah dicatat sebagai ibadah..". 

Satu ibadah yang sempurna disisi Nya saudaraku.. 

Intiplah rahasianya..
Pasti ada hikmahnya..

Lalu nantikanlah…
Diantara gelapnya suasana, disana ada cahaya.
membimbing senyum diwajahmu,.. 

Segera setelah musibah itu mereda. 
disana bahumu semakin kokoh dan tegap berdiri.. 
Kakimu tegak dan siap melangkah, 
wajahmu menunduk dan hatimu tetap basah, 
bertasbih bersama semesta.

Disanalah rekahan kebahagiaan memancar dari hatimu.
Laksana pelangi dipenghujung senja.

Bukankah alam melukis pelangi dari riuh riuh 
gemuruh hujan dan cekaman halilintar?

Pelangi kebahagiaan adalah hadiah bagi mereka yang lulus.
Mereka yang sering berdiam menanti akhir yang indah.. 
Terus bersabar meski sukar...

Tak usahlah mengeluh atas duka duka dan kepedihan..
Engkau tidak sendiri kawan, semua jua sedang menanti sang pelangi.

Jika saja kekasihmu tidak bersamamu lagi, 
diujung sana masih ada kawan yang menantimu kembali. 
Kembalilah kawan, anggaplah pena ini sahabatmu. 
Sahabat yang baru saja menepuk bahumu, 
sahabat yang merindumu kembali..

Anggaplah pena ini sahabat yang menghampirimu dalam gelap
Seorang yang membawakanmu lilin dan menyalakannya untukmu, 
Sosok yang mencoba meraih bahumu, membisikanmu, 
menjunjukanmu, bahwa disana masih ada jalan!

Anggaplah pena ini sahabatmu, 
Seseorang yang meraihmu dengan tulus saat bibirmu nanti mulai berkata kata; 
“yah, hidup ini memang tidak mudah”..

Sahabat yang tidak menertawakanmu saat engkau salah, 
yang membenarkanmu saat semua seperti menyalahkanmu.
Sahabat yang senang duduk bersamamu 
saat dunia dan semua seakan menyalahkanmu..
Sahabat yang menitikan air mata 
saat engkau hampir menangis..

Anggaplah pena ini sahabatmu,
Sahabat yang tidak pernah menyalahkanmu
Sahabat yang ingin memahamimu ketika dirimu marah
Sahabat yang tidak mampu tersenyum saat dirimu murung,
Sahabat yang tak sanggup tertawa saat engkau terluka..
Sahabat yang ikut terluka saat kakimu melemah dan terjatuh.
Sahabat yang ingin mengingatkanmu lagi tentang masa masa dulu, 
ketika bahumu tangguh menatap harapan, 
menuntunmu lagi, melembutkan hatimu, 
mengingatkanmu saat saat seperti dulu, 
ketika engkau terduduk di pojokan masjid 
menangis memohon ampunan atas dosa dan kesalahan..

Sahabat yang ingin menegur dan mengingatkanmu, berdoa dibelakangmu, membersihkan namamu dan duri yang menusukmu.

Mari sahabatku, engkau mungkin tak pernah mengenal jari siapa yang lancing menasihatimu ini. Namun bersaudara itu adalah pesan mulia dari panutan kita, Rasulullah Sholallahu Alaihi wa sallam. Mari berjalan berdampingan. Mencari oase ditengah gersangnya kehidupan
Menuju keabadian..

Sahabat jauh yang mungkin tidak pernah engkau kenal
Sahabat yang bahakan tidak pernah bertemu dalam tatapan
Sahabat yang menatapmu dari kejauhan..

Bukan, aku bukan sahabat sejatimu
Karena sosok itu mungkin tak pernah ada
Di semesta fana ini

Benar kata Syaikh ‘Athaillah
“Sahabat sejati itu tidak ada
kecuali dia yang paling tahu aibmu, 
dan tidak ada sahabat seperti itu 
kecuali Tuhanmu Yang Maha Pemurah”.

Jazakumullah Khairan ya Ikhwatallill Iman!
Ahlan wasyahlan, selamat datang di altar rehab hati
Anggaplah buku ini sahabatmu, sahabat yang membenarkanmu, saat semuaa seperti menyalahkanmu

Semoga persahabatan ini diberkahi Nya. 

Lupakanlah siapa penulisnya, 
namun dengarkanlah gemericik bisikannya
Analogi dan diksi sederhana ini, sengaja kualirkan melalui jari, dari danau ketenangan di hatiku untuk kebahagiaanmu. 

Semoga Allah Tabaroka wa Ta'ala 
Mencintai, Menyayangi dan Merahmatimu.

[Prolog Buku REHAB HATI, Chapter 3]

Salam Bahagia,
NAI-RIYADH 2012